Apa kabar all, pasti anda siap2
untuk sekolah. Sebelum itu anda tahu gak sejarah sekolah di Indonesia. Kalau
gak tahu, mari kita ikuti sejarah sekolah si Indonesia.
Sekolah
sebelum masa penjajahan
Sebelum masa penjajahan pendidikan yang ada di Indonesia
berupa pendidikan
nonformal. Pendidikan ini telah ada sejak Zaman Kerajaan Hindu (atau
sebelumnya), sekolah/pendidikan dilangsungkan di tempat ibadah, perguruan atau padepokan.
Sekolah sebelum masa penjajahan
Sebelum masa penjajahan pendidikan yang ada di Indonesia
berupa pendidikan
nonformal. Pendidikan ini telah ada sejak Zaman Kerajaan Hindu (atau
sebelumnya), sekolah/pendidikan dilangsungkan di tempat ibadah, perguruan atau padepokan.
Murid pribumi tahun pelajaran 1919-1920 di sekolah Koning
Willem III di Weltevreden (kini
Gambir) di Jakarta
Pendidikan
formal di Indonesia mulai dikenal pada masa ini, pada awal masa
penjajahan sampai tahun 1903 sekolah
formal masih dikhususkan bagi wargaBelanda di Hindia Belanda.
Sekolah yang ada pada masa itu diantaranya ELS,HIS, HCS, MULO, AMS
[sunting]
Europeesche
Lagere School
ELS (singkatan dari bahasa Belanda: Europeesche Lagere
School) adalah Sekolah Dasar pada
zaman kolonial Belanda di Indonesia. ELS
menggunakan Bahasa Belanda sebagai
bahasa pengantar.
ELS atau Sekolah Rendah Eropa tersebut
diperuntukkan bagi keturunan Eropa, keturunan timur asing atau pribumi dari
tokoh terkemuka. ELS yang pertama didirikan pada tahun 1817 dengan
lama sekolah 7 tahun.
Awalnya hanya terbuka bagi warga
Belanda di Hindia Belanda, sejak tahun 1903 kesempatan
belajar juga diberikan kepada orang-orangpribumi yang mampu dan warga Tionghoa.
Setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata
berdampak negatif pada tingkat pendidikan di sekolah-sekolah HIS dan ELS
kembali dikhususkan bagi warga Belanda saja.
Sekolah khusus bagi warga pribumi
kemudian dibuka pada tahun 1907 (yang pada
tahun 1914 berganti nama menjadi (Hollandsch-Inlandsche
School (HIS)) dengan
lama belajar 7 tahun, diperuntukan bagi keturunan Indonesia asli yang umumnya
anak bangsawan, tokoh terkemuka, atau pegawai negeri.
Sementara sekolah bagi warga
Tionghoa, Hollandsch-Chineesche School (HCS)
dibuka pada tahun 1908 dengan lama belajar 7 tahun. HCS dan
HIS tersebut digolongkan dalam Eerste Klasse School atau
Sekolah Kelas Satu yang diperuntukan bagi penduduk non Eropa.
Kesetaraan jenjang pendidikan sekolah
rendah (sekarang Sekolah Dasar):
ELS - H
Hollandsch-Inlandsche
School
Sekelompok siswa HIS sedang mengunjungi
Cisarua di bawah pengawasan mahasiswa Hogere Kweekschool(sekolah
pendidikan guru) Bandung pada tahun 1925-1926
Siswa HIS Sumenep pada tahun 1934
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) adalah sekolah pada zaman
penjajahanBelanda. Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 1914[1] seiring
dengan diberlakukannya Politik Etis.
Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau
setingkat dengan pendidikan dasar sekarang.
HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda(Westersch Lager Onderwijs),
dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa
daerah.
Sekolah ini diperuntukan bagi golongan
penduduk keturunan Indonesia asli, sehingga disebut juga Sekolah
Bumiputera Belanda. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan
bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah
tujuh tahun.
[sunting]Peraturan
Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901
Peraturan pendidikan dasar untuk
masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848,
dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada
setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan,
perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu.[2] Peraturan
yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik Balas
Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan Ratu
Belanda Wilhelminapada 17
September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasi, transmigrasi,pendidikan.[3]
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk
HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman
Kanak-Kanak (Voorbels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar.
Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, HBS, atau Kweekschool.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa
biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa
pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia Belanda, maka masih ada pihak swasta
seperti Taman Siswa, Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik.
Pada jalur pendidikan Islam ada pendidikan yang diselenggrakan oleh
Muhamadiyah, Pondok
Pesantren, dlsb.
Hollandsche Chineesche School
HCS (singkatan dari bahasa Belanda: Hollandsch-Chineesche
School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial
Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di
Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta
pada 1908, terutama untuk
menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang
didirikan oleh Tiong
Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin
mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya
mempunyai 8.060 orang siswa.
HCS menggunakan bahasa Belanda sebagai
bahasa pengantarnya.
Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun (1864) dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah serupa diselenggarakan oleh zending di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan sekolah di Ambon dan Minahasa adalah bahasa Melayu. Sebagai kelanjutan dari Keputusan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertamama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Pada waktu sebelumnya, Pemerintah telah menyelenggarakan kursus-kursus guru yang diberi nama Normaal Cursus yang dipersiapkan untuk menghasilkan guru Sekolah Desa. Sekolah guru di Surakarta ini murid-muridnya diambil dari kalangan priyayi Jawa. Bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa dan melayu. Sekolah ini pada 1875 dipindahkan dari Surakarta ke Magelang. Setelah pendirian Sekolah guru di Surakarta berturut-turut didirikan sekolah sejenis di Bukitinngi (Fort de Kock) pada 1856, Tanah Baru, tapanuli pada 1864, yang kemudian ditutup pada 1874, Tondano pada 1873, Ambon pada 1874, Probolinggo pada 1875, Banjarmasin pada 1875, Makassar pada 1876, dan Padang Sidempuan pada 1879. jenis sekolah ini mengalami pasang surut karena adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alasan penghematan keuangan negara. Kweekscool yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, Padang Sidempuan (1891), Banjarmasin (1893), dan Makassar (1895). Penutupan sekolah ini akibat dari malaise. Di Kweekschool, bahasa Belanda mulai diajarkan pada 1865, dan pada 1871 bahasa tersebut merupakan bahasa wajib, tetapi pada 18885 dan pada 1871 bahasa tersebut tidak lagi merupakan bahasa wajib. Pada dasawarsa kedua abad ke-20, bahasa Belanda bukan lagi hanya bahasa wajib melainkan menjadi bahasa pengantar. Pemerintah Hindia Belanda tidak banyak campur tangan terhadap pendidikan guru bagi golongan Eropa, dan diserahkannya kepada swasta. Pada akhir abad ke-19 pemerintah hanya menyelenggarakan kursus-kursus malam di Batavia (1871) dan Surabaya (1891). Oleh pihak Katolik didirikan kursus-kursus di Batavia, Semarang, dan Surabaya (1890).Sejarah Kweekschool di Hindia Belanda
[sunting]Peraturan Pendidikan 1848, 1892 dan
Politik Etis 1901
Peraturan pendidikan dasar untuk
masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848,
dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada
setiap Karesidenan, Kabupaten, Kawedanaan, atau pusat-pusat kerajinan, perdagangan,
atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan yang
terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik
Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato
penobatan Ratu BelandaWilhelmina pada
17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasi, transmigrasi [2], pendidikan.
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
MULO (singkatan dari bahasa Belanda: Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial
Belanda diIndonesia. Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs berarti "Pendidikan Dasar Lebih Luas".
MULO menggunakan Bahasa
Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 1930-an,
sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap ibu kota kabupaten di Jawa.
Hanya beberapa kabupaten di luar Jawa yang mempunyai MULO.
Peraturan
Pendidikan 1848, 1892, dan Politik Etis 1901
Peraturan pendidikan dasar untuk
masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848,
dan disempurnakan pada tahun 1892 di mana pendidikan dasar harus ada pada
setiap Karesidenan (?), Kabupaten (?), Kawedanan (?), atau pusat-pusat
kerajinan, perdagangan, atau tempat yang dianggap perlu [1]. Peraturan
yang terakhir (1898) diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik
Balas Budi dari Kerajaan Belanda, yang diucapkan pada pidato penobatan
Ratu Belanda Wilhelmina pada
17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigasi, transmigrasi,
dan edukasi.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk HIS
pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (speel groep) atau Taman
Kanak-Kanak (di antaranya dengan dasar pendidikan Friedrich
Fröbel), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar. Setelah
itu dapat melanjutkan ke MULO, atau Kweekschool.
Untuk memasuki HBS diperlukan syarat yang sangat ketat, tamatan HIS tidak dapat
masuk HBS.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa
biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chineesche School)
karena selain bahasa pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia
Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa,
Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada
pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren,
dan lain sebagainya.
Algemeene Middelbare School
AMS (singkatan dari bahasa Belanda Algeme(e)ne
Middelbare School) adalah Sekolah Menengah Atas pada zaman kolonial
Belanda di Indonesia.
ELS menggunakan Bahasa
Belanda sebagai bahasa pengantar. AMS setara dengan SMA (Sekolah Menengah Atas) pada saat ini
yakni pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas. AMS menggunakan pengantar
bahasa Belanda dan pada tahun 1930-an, sekolah-sekolah AMS hanya ada di
beberapa ibu kota provinsi Hindia Belanda yaitu Medan (Sumatera), Bandung (Jawa
Barat), Semarang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur), Makassar (Indonesia
Timur). Selain itu AMS ada di Yogyakarta (Kasultanan Yogyakarta), Surakarta
(Kasunanan Surakarta) dan beberapa kota Karesidenan seperti di Malang. Selain
itu ada beberapa AMS Swasta yang dipersamakan dengan Negeri Di provinsi Borneo
(Kalimantan) belum ada AMS.
]Peraturan Pendidikan 1848, 1892, dan
Politik Etis 1901
Peraturan pendidikan dasar untuk
masyarakat pada waktu Hindia Belanda pertama kali dikeluarkan pada tahun 1848,
dan disempurnakan pada tahun 1892. Pendidikan dasar dengan bahasa pengantar
(Hollands Inlandsche School, HIS) baru dibentuk pada tahun 1908 di setiap Kabupaten
di Jawa. Di setiap Kawedanaan ada Standard School yang lamanya 4 tahun dan
disetiap Desa, sejak tahun 1907 (di bawah Gubernur Jenderal Van Heutz) ada
Sekolah Desa(Volksschool) yang lamanya 3 tahun. Peraturan yang terakhir (1898)
diterapkan pada tahun 1901 setelah adanya Politik Etis atau Politik
Balas Budi dari Kerajaian Belanda, yang diucapkan pada pidato
penobatan Ratu Belanda Wilhelmina pada
17 September 1901, yang intinya ada 3 hal penting: irigrasi, transmigrasi [1],pendidikan.
Pada zaman Hindia Belanda anak masuk
HIS pada usia 6 th dan tidak ada Kelompok Bermain (Speel Groep) atau Taman
Kanak-Kanak (Frobels), sehingga langsung masuk dan selama 7 tahun belajar.
Setelah itu dapat melanjutkan ke MULO, AMS, atau Hogere Kweekschool. Jalur
untuk anak Belanda adalah Europese Lagere School (ELS)- HBS III- HBS V atau
ELS-Gymnasiun/Lyceum. Jalur Sekolah bagi anak Belanda juga dapat dimasuki oleh
anak Bumiputera dan Tionghoa yang terpilih.
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa
biasanya memilih jalur HCS (Hollands Chinesche School) karena selain bahasa
pengantar Belanda, juga diberikan bahasa Tionghoa.
Di luar jalur resmi Pemerintah Hindia
Belanda, maka masih ada pihak swasta seperti Taman Siswa,
Perguruan Rakyat, Kristen dan Katholik. Pada jalur pendidikan Islam ada
pendidikan yang diselenggrakan oleh Muhamadiyah, Pondok Pesantren,
dlsb.
[Jalur Pendidikan AMS
Pada tahun 1916 Pemerintah
Kolonial Hindia
Belanda menerima usul dari sebuah komisi tentang
pendidikan Algemeene Middelbareschool (AMS) yang seluruhnya
memuat studi 6 tahun. Bagian bawahnya disebut MULO afdeeling der AMS, dan bagian
atas disebut Voorbereind Hooger Onderwijs afdeeling der AMS (VHO).
Tamatan afdeeling VHO ini diterima berdasarkan peraturan di perguruan tinggi di
Negeri Belanda.[1]
Pada tahun 1919 dibukalah AMS-B
(jurusan wis -en natuurkunde atau 'matematika dan ilmu
pengetahuan alam') yang pertama di Yogyakarta; dan kemudian AMS-I
(jurusan westersch-klassieke letteren atau 'sastra klasik
Barat') di Bandung pada tahun 1920.
Banyak orang tua murid menyekolahkan
anaknya ke AMS, karena dengan harapan dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi yaitu misalnya ke THS di Bandung (Technische Hooge School - didirikan
tahun 1920 - sekarang - Institut Teknologi Bandung - ITB), RHS di Jakarta
(Rechts Hooge School - didirikan tahun 1924 - sekarang Fakultas Hukum UI
Jakarta), atau GHS di Jakarta (Geneeskudige Hooge School - didirikan tahun 1927
- sekarang Fakultas Kedokteran UI Jakarta), ke Bogor di Landbouw Hooge School -
didirikan tahun 1940 - sekarang Institut Pertanian Bogor - IPB. Melalui AMS
berarti harus menyelesaikan MULO lebih dahulu yang tersebar di hampir semua
provinsi yang hanya berjumlah delapan, sedangkan kalau melalui HBS hanya ada di
Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, atau Medan.
Jalur A afdeling atau
SMA Bagian-A pada tahun 1951 atau sekarang Sastra-Budaya, di mana akan
ditekankan pada ilmu sastra dan budaya, tentu saja jalur ini hanya untuk
meneruskan ke RHS saja.
Jalur B afdeling atau
SMA Bagian-B pada tahun 1951 atau sekarang Paspal, di mana akan ditekankan pada
ilmu alam dan ilmu pasti, jalur ini dapat ke semua jurusan RHS, THS, GHS,
ataupun LHS.
Guru AMS
Pada waktu itu, para guru AMS
berpendidikan tinggi dari RHS, THS, GHS, ataupun LHS. Sehingga misalnya guru
aljabar pada umumnya menyandang gelar Ir., guru sejarah menyandang gelar Mr.,
atau guru botani menyandang gelar dokter (Arts)., dlsb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar